Jadwal Kajian Ilmiah Ahlussunnah
RSS

Makar Dzul Akmal Dan Luqmaniyyun Terhadap Masjid Jambi

Comments Off
Dec - 20 - 2011
Admin

بسم الله الرحمن الرحيم

 

—-> Untuk download artikel + bukti scan surat pernyataan peserta “Rapat” format .pdf : Klik Di Sini

BERIKUT INI MERUPAKAN SURAT PERNYATAAN PESERTA DAUROH DZUL AKMAL (19-20 SYAWAL 1432 H)

Bismillah

Kepada saudara ustadz Muhammad Ja’far di tempat

Berdasarkan musyawarah pada hari ahad tanggal 20 Syawal 1432 H yang diikuti oleh ihwah sebagai perwakilan dari Sungai Bahar, Tebing Tinggi, Purwodadi, Sungai Tapa, Jambi dan Palembang, dengan ini menyatakan sikap sebagai berikut :

  1. Kami seluruh ikhwah salafiyin wilayah Jambi dan Palembang sepakat tidak belajar dengan ustadz M. Ja’far. Adapun kesepakatan ini kami ambil berdasarkan nasehat atau fatwa AsySyaikh Muhammad bin Hadi AlMadkholi Hafidzohullah dengan fatwa terlampir, sebagaimana juga telah di jelaskan oleh ustadz Dzul Akmal, lc.
  2. Kami juga sepakat untuk mengaktifkan masjid yang ada di Bagan Pete dengan bimbingan ustadz Dzul Akmal dan asatidzah salafiyin se-Indonesia. Untuk itu mohon kiranya kunci masjid tersebut diserahkan kepada kami (saudara Ponco, Hud Huda atau Amir)
  3. Untuk mengaktifkan dakwah salafiyin di wilayah Jambi dan sekitarnya, ustadz Dzul Akmal menekankan, sebelum ada ustadz di Jambi dimohon ustadz M. Surur dan ustadz Abdurrohman Mahdi untuk mengaktifkan dakwah salafiyin di Jambi dan merintis pembangunan pondok di Jambi dengan ta’awun seluruh ikhwah
  4. Kami tidak akan mengambil ilmu dari Dammaj sampai adanya rujuk atau taubat dari pimpinannya kepada ulama kibar yang ada di Arab Saudi

Kami menyatakan sikap sebagai perwakilan ikwan salafiyin di Sungai Bahar, Tebing Tinggi, Sungai Tapa, Purwodadi, Jambi dan Palembang :

  1. Ponco W Abu Pasha
  2. Abu Mujahid
  3. Abu Kholid
  4. Abu Ja’far Dzulkifli
  5. Muhammad Amir
  6. Marimin
  7. Prapto
  8. Umar Abu Nafisah
  9. Hud Huda Abu Muhammad Kholid
  10. H. Radi (Lubuk Linggau)
  11. Abu Yahya Zaid Palembang
  12. Sholikhin
  13. Dr. Siswadi

 

Mengetahui
Ustadz Abdurrohman Mahdi Ustadz Dzul Akmal Ustadz Muhammad Surur

KUMPULAN PERKATAAN SYAIKH MUHAMMAD BIN HADI AL MADKHOLI TERHADAP SYAIKH YAHYA AL HAJURI YANG DI BACAKAN DZUL AKMAL DALAM DAUROHNYA TERDIRI 5 HALAMAN :

  1. Perkataan Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholi Hafidzohullah malam 3 Rojab 1432 H.
  2. Jawaban Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholi Hafidzohullah terhadap soal kalimat manhajiyah yang beliau sampaikan di Madinah Jazan Selasa 8 Syawal 1432 H.
  3. Ana terjemahkan untuk mempersingkat waktu dari pertengahan halaman 3-5 yang berkaitan ghuluw, tsaqolain, dan syair yang memuji Syaikh Yahya.

Penjelasan :

Halaman 3 : “Adapun ghuluw (ekstrim) kepadanya, ceritakanlah tentangnya tidak ada masalah, Imam tsaqolain (Imam jin dan manusia), dan jika diusap sandalnya sampai waktu yang aku tidak tahu tidaklah terpenuhi haqnya. Peganglah perkataan ini yang memuakkan pendengaran dan jika mereka melelehkan jasadnya (Syaikh Yahya), dagingnya akan menjadi sunnah dan sisa tubuhnya yang lain akan menjadi ayat-ayat Al Qur’an dan lain sebagainya.”

“Dan sangatlah aneh sesungguhnya mereka mengucapkan bahwasanya kalian mendengar dari tukang fitnah padahal kita mendengar ucapan ini terekam dengan suara pembicara dan kita baca pada sebagian buku dicetak. Lebih khusus lagi buku yang ditulis oleh Abdul Hamid Al Hajury yaitu khianat da’wiyah. Qosidah-qosidah ini ada dalam buku tersebut.”

Halaman 4 : “Belakangan ini Syaikh Robi’ dicela dengan qosidah dan dia (Syaikh Yahya) mengucapkan kepada pencela barokallahu fiika. Ambillah dari perkara ini, apa yang diucapkan karena Allah dari ucapan seperti ini. Jika ini tidak dikatakan kedunguan, maka aku tidak tahu lagi apa itu kedunguan. Maka kita memohon pada Allah keselamatan dan kesehatan dan kita tidak akan berjalan juga dalam kedunguan.”

“Aku bersikap dalam batasan ini, tidak karena kecemasan, tidak kelemahan. Akan tetapi sesungguhnya tidak pantas bagi kami didalam kedunguan. Sesungguhnya apa yang kami sebutkan pada kalian agar kalian mengetahui sebagian saja.”

“Demi Allah, perkataan seperti ini, orang yang berakal, memiliki tabi’at baik, iffah, akan menjaga lisannya dari perkara tersebut. Akan tetapi kadang kala kita terpaksa menceritakannya. Maka aku akan menceritakannya atau menceritakan sebagian terhadap kalian agar benar-benar kalian mengetahui tiga perkara yang aku sebutkan.”

“Dan mohon kepada Allah jalla wa ‘ala kehormatan dari ketergelinciran dalam ucapan dan perbuatan sebagaimana kita memohon pada-Nya jalla wa ‘ala hidayah dan taufiq. Wallahu a’lam.”

Washollallahu wasallam wabaroka ‘ala ‘abdihi warosulihi nabiyyuna Muhammadin wa‘ala alihi wasohbihi ajma’in.

Halaman 5 : Persaksian Haq

Bismillahi wassholatu wassalamu ‘ala rosulillahi wa ‘ala alihi wasohbihi waman walahu. Amma ba’du:

Aku dan sekumpulan saudara-saudara dari Jazair dan Libya pada akhir bulan Sya’ban 1431 H telah bertemu dengan Syaikh Dr. Muhammad bin Hadi Al Madkholi hafidzahullah di dalam masjid yang dekat rumahnya di Madinah Nabawiyah. Lalu saudara yang utama Majid Al Jazairi hafidzahullah bertanya kepada Syaikh : telah sampai kepada kami bahwasanya engkau telah berkata tentang bait ini :

Jika mereka melelehkan tubuhnya (Syaikh Yahya), dagingnya akan menjadi Sunnah dan sisa tubuhnya yang lain akan menjadi ayat-ayat Al Qur’an.

Sesungguhnya didalam bait tersebut ada ucapan Khalqul Qur’an, maka apakah ini shohih?

Lalu Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholi berkata, “Iya.”

Kemudian berkata Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkholi hafidzahullah, “Demi Allah sesungguhnya yang diucapkan pada pribadi Falih al Harby daripada pujian tidak sampai 1/10 daripada apa yang diucapkan pada al Hajury dari pujian.”

Dan yang termasuk hadir dalam pertemuan ini adalah saudara yang utama Syafi’i al Jazairi hafidzahullah.

Ditulis oleh : Abu Yasir Ali bin Abdul Qodir bin Isa as-Salafy al Jazairi

Yaman – pada hari Isnain 9 Dzulqaidah 1431 H.

BERIKUT INI MERUPAKAN ISI SURAT PERNYATAAN VERSI NOTULEN RAPAT, ABU NAFISAH UMAR TEBING TINGGI

Sabtu malam tanggal 20 Syawal 1432 H, telah diadakan musyawarah di Jambi yang dilaksanakan di masjid Talang Banjar Kota Jambi. Adapun musyawarah tersebut dipimpin oleh Muhammad Surur dan sebagai penasehat adalah Ustadz Dzul Akmal Riau dihadiri oleh sebagian ikhwah Jambi Kota, Sei Bahar, Tebing Tinggi Jambi. Dan pada saat itu juga diperoleh kesepakatan yang intinya sebagai berikut :

  1. Para ikhwan mengumpulkan tanda tangan yang berisi surat pernyataan bahwasanya mereka bersepakat untuk tidak ta’lim bersama Ustadz Muhammad Ja’far.
  2. Bahwasanya para ikhwan tersebut bersepakat untuk pemegang pimpinan pondok Jambi diserahkan ke Muhammad Surur.
  3. Meminta kunci masjid pondok dari Ustadz Muhammad Ja’far dan diberikan kepada Muhammad Surur.

(via telpon antara Abdul Aziz Sei. Tapa dengan Abu Nafisah Umar Tebing Tinggi).

BERIKUT INI MERUPAKAN HASIL MUSYAWARAH IKHWAH KOTA JAMBI

Bismillah,

Hasil Musyawarah Sebagian Ikhwah Kota Jambi Hari Sabtu Tanggal 3 Dzulqaidah 1432 H / 1 Oktober 2011 Di Rumah Pak Tafsirun.

  1. Melihat dari sejarah pembangunan Masjid Bagan Pete, maka kami sepakat bahwa masjid tetap dipertahankan seperti keadaan semula dan tidak menyetujui jika masjid dipindahtangankan atau diambilalih atas nama Muhammad Surur dan yang semisalnya.
  2. Dengan perebutan masjid akan menimbulkan sakit hati pribadi-pribadi sampai dengan masa yang akan datang yang sulit diperbaiki meski terjadi islah.
  3. Sekedar rencana saja sudah menimbulkan sakit hati dan amarah sebagian ikhwah yang masih bersama Ustadz Muhammad Ja’far.
  4. Kami tidak menyetujui segala tindakan Ustadz Dzul Akmal, Pak Ponco, Hud Huda, Pak Amir berkaitan dengan masjid.
  5. Kami tidak mau meminjamkan kunci masjid apalagi menyerahkan masjid kepada Muhammad Surur cs.
  6. Tetap mendukung dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Jambi yang dijalankan oleh Ustadz Muhammad Ja’far.
  7. Tidak mengakui Muhammad Surur sebagai Ustadz di Kota Jambi.
  8. Pertemuan ini diadakan atas dasar :

Firman Allah ta’ala :

‎فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Jika kalianberselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya. [An-NIsa’ : 59]

Jambi, 3 Dzulqaidah 1432 H / 1 Oktober 2011

Penanggung Jawab Ta’lim Kota Jambi

Ir. Tafsirun

Yang menghadiri musyawarah :

  1. Abu Addin Salman
  2. Sholahuddin
  3. Abu Luqman
  4. Abu Ubay Wagiman
  5. Abu Zufar Rano
  6. Abu Fadhil Zulfadhli
  7. Abu Abdillah Ari

Ikut menyetujui :

  1. Abu Ajeng
  2. Abu Ibrohim
  3. Pak Pendi
  4. Abu Muhammad Herman
  5. Pak Iwan

BERIKUT INI MERUPAKAN HASIL MUSYAWARAH IKHWAH SUNGAI TAPA

Bismillah,

Musyawarah Ikhwah Sei. Tapa, Utusan Kota Jambi Abu Ubay Wagiman Dan Utusan Purwodadi Abu Izhar Pada Jum’at Malam 23 September 2011 / 24 Syawal 1432 H, Setelah Ta’lim Di Masjid Sei. Tapa :

  1. Tidak menganggap Muhammad Surur sebagai Ustadz sejak dari awal.
  2. Mengembalikan infaq sodaqoh masjid peserta tanda tangan dauroh Ustadz Dzul Akmal jika mereka menghendaki.
  3. Menolak memberikan atau meminjamkan masjid pondok kepada Muhammad Surur, Abu Pasya Ponco dan kawan-kawan.
  4. Jika datang utusan peserta dauroh Ustadz Dzul Akmal meminta dukungan tanda tangan, maka kami menolak.
  5. Kami tidak setuju hasil musyawarah dauroh Ustadz Dzul Akmal yang intinya memboikot Ustadz Muhammad Ja’far.

Peserta Rapat :

  1. Abu Balqis Hari
  2. Abu Salsa Suratman
  3. Abu Yahya
  4. Abu Ubaid Prapto
  5. Eko
  6. Parman
  7. Abu Izhar (perwakilan Purwodadi)
  8. Abu Ubay Wagiman (perwakilan Kota Jambi)
  9. Abu Mus’ab

Penanggung Jawab Ta’lim Sei. Tapa

Abdul Aziz

Nb. Point nomor 5 adalah penambahan dari Abdul Aziz pada senin malam tanggal 3 Oktober 2011 / 4 Dzulqaidah 1432 H yang uzur datang saat rapat.

PADA HARI SABTU-AHAD 19-20 SYAWAL 1432 H / 17/18-9-2011 M, ABUL MUNDZIR DZUL AKMAL MENGADAKAN DAUROH DI KOTA JAMBI PROPINSI JAMBI.

Kronologis Kedatangan Abul Mundzir hadahullahu ta’ala.

Ana (Muhammad Ja’far) baru mengetahui rencana dauroh Selasa pagi 7 Syawal 1432 H di rumah Abu Izhar (senin malam ta’lim di desa Purwodadi). Itu adalah rencana Muhammad Surur yang diketahui pada akhir Ramadhan dan memerintahkan Dr. Siswadi dan Solihin menjemput Abul Mundzir ke Pekanbaru dengan mobil Abu Izhar. Jika tidak bisa, maka mencari supir lain. Dauroh direncanakan hari Sabtu di Masjid Nurdin Hasanah dan Ahad di Masjid Bagan Pete (lokasi ma’had, insya Allah). Setelah itupun ada info dari ikhwah Jambi Kota, rencana dauroh Sabtu Ahad di Masjid Nurdin Hasanah. Masjid ini adalah milik pribadi keluarga Nurdin Hamzah rahimahullah. Bapak dari mantan Gubernur Jambi Bapak Zulkifli Nurdin. Di masjid inilah ana mengisi ta’lim rutin ana tiap Ahad pagi jam 9.30 sampai sebelum zuhur. Ini berlangsung sejak Syawal enam tahun yang lalu (1427 H), dan Dzulqaidah tahun ini mulai masuk tahun ke tujuh, insya Allah.

Rabu Subuh 15 Syawal 1432 H, ana mendatangi Bapak Imam masjid, menanyakan apakah benar di sini (Masjid Nurdin) hari Sabtu dan Ahad ada acara? Beliau menjawab, “Ada.” Pada hari sabtu, ada yang datang kepada Pak Imam, mengaku kenal baik dengan ana, dan jama’ah ta’lim ustadz juga katanya yang ternyata adalah Hud Huda. Jam 7.30 ana mengajak Zulfadhli kembali ke rumah Bapak Imam. Beliau memperlihatkan surat panitia kajian islamiyah dengan tema “Mengembalikan Perkara Ummat Kepada Ulama Salaf”. Ketua panitia Hud Huda, sekretaris Ericson Simanjuntak, waktu pelaksanaan jam 8 sampai selesai. Kata Pak Imam, setelah Huda menyerahkan surat, datang lagi panitia manasik haji, mohon izin pemakaian masjid Sabtu dan Ahad. Lalu saya kasih izin dari Sabtu sore sampai Ahad.

Sabtu Pagi Jam 18 Syawal 1432 H, ana safar untuk mengisi ta’lim rutin setelah zuhur di Sei. Lilin, Muba , Sumatera Selatan dan pulang malamnya. Ahad pagi, ta’lim rutin di masjid Nurdin ana pindahkan ke masjid Ad-Diin dekat rumah ana (sementara ana dengar, dauroh Dzul Akmal pada Sabtu sore dan Ahad dipindahkan ke sebuah masjid di daerah Talang Banjar, Kota Jambi). Wahai Abul Mundzir, dari manakah sumber beritanya sehingga diantara penggemarmu ada yang mengatakan bahwa ana mendatangi dauroh antum kemudian ana diusir peserta dauroh?”

Kamis Malam 24 Syawal 1432 H, Abu Luqman Slamet Sumeri berkunjung ke rumah ana, menceritakan makar Muhammad Surur dan Dzul Akmal terhadap masjid di Bagan Pete.

ISI SURAT PERNYATAAN PESERTA DAUROH DZUL AKMAL , ANA BAGI 4 BAGIAN :

  1. Tidak belajar lagi dengan atas dasar nasehat atau fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkholi dengan fatwa terlampir (5 halaman berbahasa arab)[1].
  2. Berkaitan Dengan Mesjid di Bagan Pete.
  3. Penekanan Dzul Akmal agar Muhammad Surur dan Abdurrahman Mahdi mengaktifkan dakwah di Jambi.
  4. Instruksi Dzul Akmal yang tidak terdapat dalam surat.

Insya Alloh ana komentari satu persatu.

A. “KAMI SELURUH IKHWAH SALAFIYYIN JAMBI DAN PALEMBANG…..”

Wahai Abul Mundzir, apakah ikhwah salafiyin yang masih belajar dengan ana tidak dianggap salafi lagi? Alhamdulillah mayoritas ikhwah Jambi, Sei. Lilin, seluruh Sei. Tapa dan sebagian Purwodadi masih belajar dengan ana.

”DALIL” DZUL AKMAL MENTAHZIR ANA

“Adapun kesepakatan ini kami ambil berdasarkan nasehat atau fatwa as-syaikh Muhammad bin Hadi al Madkholi dengan fatwa terlampir…”

Komentar Ana : Apalah seorang bernama Muhammad Ja’far, sehingga engkau mentahdzir ana, datang dari Pekanbaru ke Kota Jambi dengan membawa dasar nasehat atau fatwa syaikh? Apakah tidak cukup dengan atas namamu sendiri?[2] “Wahai Abul Mundzir bukankah dulu engkau yang mempopulerkan fatwa Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkholi , bahwa Luqman Ba’abduh hizbi? Fatwa syaikh Robi’ bin Hadi al Madkholi “Saya khawatir Luqman ini adalah mata-mata ikhwanul muslimin di bawah kedok dakwah salafiyah,” dan Syaikh Usamah Athoya, “Luqman Ba’abduh menempuh jalan rofidhoh.” Adakah orang-orang yang datang ke majelis atau sepaham denganmu memboikot Luqman Ba’abduh sebagaimana memboikot ana? Justru mayoritas yang datang pada daurohmu adalah pembela Luqman, musuh bebuyutanmu.”

Adapun fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Hadi al Madkholi no: 2 (hal 3 – 4, bahasa arab) dan persaksian haq (hal. 5, bahasa arab) sebagaimana terlampir. Abul Mundzir membawa fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholi tentang ghuluw (ekstrim) seperti memuji Syaikh Yahya “Imam tsaqolain” ( jin dan manusia)…. Jika tubuhnya meleleh (Syaikh Yahya) dagingnya akan menjadi sunnah dan sIsa tubuhnya yang lain akan menjadi ayat-ayat Al Qur’an.

PERNYATAAN TOBAT SANG PENULIS SYAIR DI DAMMAJ YANG MEMBERI GELAR “IMAM TSAQOLAIN” (JIN DAN MANUSIA) UNTUK SYAIKH YAHYA

Komentar Ana : Jawabannya bahwa penyair tersebut telah menyatakan rujuk tobat. Sebagaimana disebut di buku kecil risalah ringkas fatwa ‘ulama kibar terhadap ‘Abdurrohman al Adani dan Luqman Ba’abduh karya Abu Arqom Muslih al Jawi. Berkata penulis di hal 50-54, Syaikh Yahya diagungkan dan disucikan oleh murid-muridnya bahwa jika jasadnya meleleh, dagingnya akan menjadi sunnah Rasul dan sisa tubuhnya yang lain akan menjadi ayat-ayat al-Quran.

Memang tidak dipungkiri bahwa terkadang penyair berlebih-lebihan dalam memuji Syaikh Yahya dan Syaikh Yahya-pun sudah berkali-kali menegur serta mengingatkan bahwa beliau tidak suka itu semua, termasuk bait syair yang satu ini. Dan setelah pembuat syair ini diberi tahu tentang makna batil yang terkandung dalamnya, maka diapun segera bertaubat kepada Allah dan menyatakan ruju’nya sebagaimana pernyataannya sendiri :

“Sebenarnya aku hanyalah memaksudkan dengan bait syair tadi untuk menggambarkan kerasnya Syaikh Yahya dalam memegang teguh al-kitab dan as-sunnah dan kebencian beliau terhadap orang yang menyelisihi al-kitab dan as-sunnah. Dan yang demikian itu di dalam bab Sabda Nabi tentang Salman:

“Dia (salman) itu pernah dengan keimanan hingga ke ujung tulang rawannya.”

Dan tidaklah aku mengingatkan hal itu untuk ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) kepada Syaikh. Dan tidaklah aku memaksudkan bahwasanya beliau menjadi Qur’an. Na’udzu billahi min dzalik.”

“Dan dengan mempertimbangkan bahwasanya bait syair tadi telah menyebabkan makna yang salah dan telah dimanfaatkan oleh sebagian orang-orang yang terfitnah untuk mencerca Dammaj dan mencerca Syaikh Yahya, maka aku menyatakan ruju’ darinya dan aku mohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepadaNya.”

Ditulis oleh Abu Muslim Ahmad bin Muhammad Ibnul Husain az-Zakari al Hajuri, Darul Hadits di Dammaj 2 Robiuts Tsani 1430 H.

Demikianlah seharusnya seorang sunni salafi berani mengakui kesalahan dan segera meninggalkannya serta kembali kepada jalan yang benar ketika ditegur dan diberi nasehat.

Abul Abbas al Mubarrid berkata, ”Sesungguhnya orang yang keliru kemudian ruju’ (kembali kepada al-haq) maka dia tidak termasuk orang yang bersalah, karena dia telah keluar dari kesalahannya dengan ruju’ tersebut. Akan tetapi orang-orang yang nyata-nyata bersalah adalah orang yang terus menerus di atas kesalahan dan tidak ruju’ darinya, maka orang ini termasuk pendusta yang terlaknat.”

SYAIKH YAHYA DIAGUNGKAN OLEH MURID-MURIDNYA DENGAN SEBUTAN “IMAM TSAQOLAIN

Wahai para pengucap ucapan ini, jika engkau tidak tahu tentang adanya ralat dan pencabutan perkataan tersebut, maka bertanyalah dahulu sebelum menggembar-gemborkan, kalau engkau memang berniat untuk menasehati dan menginginkan kebaikan. Namun jika engkau sudah tahu bahwa bait syair yang berisi penyebutan Syaikh Yahya sebagai “Imam Tsaqolain” tersebut sudah diralat oleh pembuatnya dan demikian pula pengingkaran Syaikh Yahya terhadapnya, maka ini adalah musibah besar. Ketahuilah bahwa pembuat bait syair tersebut telah menyatakan ruju’nya. Jazaakallahu khoiran sebagaimana tertulis pada risalah Ar-Roddul Badi’ala Hafidz al Laudari Ash-Shori’ yang telah dibaca dan di izinkan untuk disebar oleh Fadhilatusy Syaikh Yahya al Hajuri yang terbit tanggal 24/4/1429H. Dan seseorang yang sudah bertaubat dan meralat perbuatannya tidaklah pantas untuk dicela. Inikah sikap adil yang selama ini kalian gembar-gemborkan?”

Faedah, berkata Syaikh Robi’, “…bahwasanya setiap pelaku fitnah dan penyeru kesesatan mengangkat dengan kuat syiar keadilan dan keseimbangan.”

Jelaslah penyair dalam baitnya telah menyatakan ruju’ tanggal 2 Robiuts Tsani 1430 H, adapun bait syair yang menyebutkan Syaik Yahya “Imam Tsaqolain” sudah di ralat dan di ingkari Syaikh Yahya dan diizinkan untuk di sebar oleh Syaikh Yahya tanggal 24/4/1429 H.

Adapun ucapan Syaikh Muhammad bin Hadi dalam lampiran no : 2 hari Selasa 8 Syawal 1432 H, dan akhir Sya’ban 1431 H. Dari perbedaan tanggal jelaslah menunjukkan bahwasanya Syaikh Muhammad bin Hadi masih membicarakan perkara tersebut padahal pelakunya sudah ruju’. Kita berbaik prasangka kepada beliau karena mungkin saja belum sampai pernyataan ruju’ tersebut kepada beliau sehingga beliaupun menjawab soal sebagaimana yang beliau dengar, beginilah keadaan orang-orang yang berpenyakit yang suka mengadu domba diantara pelajar bahkan ulama dan mencari-cari fitnah.

“Wahai Abul Mundzir, kenapa fatwa syaikh tersebut, engkau sampaikan padahal pelakunya sudah tobat ? Bukankah engkau pembela Dammaj dan pentahdzir Luqman pada awal fitnah? Ataukah engkau kegirangan karena musuh bebuyutanmu di tahdzir Syaikh Yahya? Kemudian ketika ada fatwa yang tidak cocok dengan hawa nafsumu, engkau kembali berbalik arah? Jika kamu bersilat lidah ana belum tahu, kenapa kamu tidak hati-hati atau cek dan ricek??”

HUKUM TA’YIR (MENCELA, MENGEJEK) MENGHINA TERHADAP PELAKU DOSA YANG SUDAH TOBAT

Berkata Imam Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali (736 H – 795 H) dalam buku Al-Farqu baina an Nasihah wa-atTa’yir (Perbedaan Antara Nasehat Dengan Menghinakan/Mempermalukan) hal 28-29, “Maka adapun menjelek-jelekan dan menta’yir (menghinakan/mempermalukan) seseorang dengan dosa yang telah dilakukan adalah perbuatan tercela.” Nabi telah melarang untuk mencaci maki/menghina seorang budak yang telah berzina padahal beliau memerintahkannya untuk mencambuknya. Maka dicambuk sebagai hukuman tetapi tidak tidak boleh di ta’yir (diejek/dihina) dengan dosa yang telah dilakukannya dan tidak boleh dijelek-jelekkan/di cacimaki.

Di dalam sunan At-Tirmidzy dan selainnya secara marfu’,

Artinya: “Barangsiapa yang menta’yir (mengejek, menghina, mencacimaki) saudaranya karena sebuah dosa, maka dia tidak akan meninggal sampai dia melakukan dosa tersebut.”

Dibawakan makna hadits ini kepada dosa yang pelakunya sudah tobat darinya.

Al Fudhail berkata, “Seorang mu’min ditutupi (kesalahannya) dinasehati sementara seorang fajir (pelaku kejahatan/dosa) di cela dan di bongkar kesalahannya.”

Berkata Najam Abdurrohman Kholif (pentahqiq dan penta’liq), berkata Ahmad bin Muni’ (160-244) dan dia Syaikhnya at Tirmidzi mereka berkata, “Dari dosa yang dia sudah tobat darinya.” At Tirmidzi menyebutkan setelah setelah hadist ini, (Tuhfatul Ahwazi 7/205), di dalamnya terdapat faedah bahwasanya penyebutan dosa sekedar ta’yir (mengejek, menghina, mempermalukan) adalah buruk, menyebabkan hukuman.

Dan Ibnu Asy Syakir sudah meriwayatkan dalam tarikhnya dari Umar radhiyallahu’anhu berkata, “Janganlah kalian mengejek/menghina seseorang, maka tersebarlah bala’ diantara kalian.” (Kasyful Khofa 2/497)

Dan pada Baihaqi dari Yahya bin Jabir berkata, “Tidaklah seseorang mengejek/menghina orang lain dengan sebuah ‘aib (kesalahan) melainkan Alla akan menguji dengan ‘aib pula (keasalahan tersebut).”

Dari An Nakhoi, dia berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar menyaksikan suatu perkara lalu membenci perkara tersebut, maka tidaklah yang menghalangi untuk mengomentari perkara tersebut kecuali kekhawatiran aku mendapat bala’ (di uji) semisal perkara tersebut.”

Imam Ibnu Rojab berkata pada hal 32-34, dan At Tirmidzy mengeluarkan dari hadist Wasilah bin Al Asqo’,

Artinya : Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah engkau menampakkan kesenangan (orang lain di timpa musibah) terhadap saudaramu, sehingga Allah akan mengampuninya dan menimpakan bala’ kepadamu.”

Dan berkata Hasan Qorib at-Tirmidzy juga mengeluarkan dari Muadz secara marfu’,

Artinya: “Barangsiapa menta’yir saudaranya karena sebuah dosa, maka tidaklah dia meninggal sampai dia melakukan perbuatan tersebut.” (sanadnya terputus).

Al Hasan berkata (21-110 H), “Barangsiapa yang menta’yir saudaranya karena sebuah perbuatan dosa yang dia (pelaku) telah tobat dari dosa tersebut, maka dia tidak akan meninggal sampai Allah menimpakan bala’ (ujian/cobaan) dengan perbuatan dosa tersebut.”

Dan diriwayatkan dari hadits Ibnu mas’ud dengan sanad lemah,

Artinya: “Bala’ (ujian/cobaan) itu tergantung dengan apa yang diucapkan, jika seandainya seseorang menta’yir seorang dengan menyusui anjing betina, benar-benar dia akan menyusuinya.”

Juga diriwayatkan makna ini oleh sekumpulan salaf.

Dan ketika Ibnu Sirin terlilit hutang dan dipenjara karenanya, beliau berkata, “Sungguh aku mengetahui dosa yang aku lakukan sehingga aku di timpa keadaan ini. Aku telah menta’yir sekurangnya 40 tahun yang lalu, aku ucapkan padanya (ejekan), ”wahai orang bangkrut..””

KEDUSTAAN DALAM LEMBAR TANDA TANGAN NOTULEN RAPAT

Wahai Dzul Akmal, dalam notulen rapat tersebut ada dua ikhwah yang ikut dicantumkan namanya, yaitu Solihin Sungai Tapa dan Dr. Siswadi Sungai Tapa. Ketauhilah bahwa Solihin berasal dari Trans Purwodadi bukan dari Sungai Tapa. Dan pulang pada Sabtu siang dengan Abu Izhar dan Dr. Siswadi juga berasal dari Purwodadi bukan dari Sei. Tapa, bahkan beliau tidak datang sama sekali ke daurohmu. Ikhwah Tapa tidak ridho mencantumkan daerah mereka di dalam tanda tangan tersebut.”

Berkata Syaikh Muqbil Al Wadi’iy rahimahullah :

“Karena hizbiyah terdiri di atas kedustaan, tipu daya dan pengkaburan.” (Hukmu Tashwir Dzawatil Arwah hal. 3)

Syaikh Ahmad Najmi rahimahullah berkata, “Seluruh dakwah hizbiyyah di bangun di atas (menyembunyikan rahasia), pengkhianatan, makar, kecurangan, dan talbis.” (Arroddul Muhabbir hal. 24).

Imam Muqbil berkata, “Hizbiyyun itu meskipun kebenaran itu jelas bagaikan matahari, dia tetap harus mendebat dan enggan mengakui kebenaran.” (Ghorotul Asyrithoh 1/hal.443).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya : “Dan sesungguhnya dusta itu menggiring kepada kejelekan dan sesungguhnya kejelekan itu menggiring ke neraka dan sesungguhnya seseorang yang selalu berdusta sehingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhori dan Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya : “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika di percaya ia berkhianat.” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Sebagian ikhwah Tapa pun sudah mendatangi keduanya dan mengingkari.

B. BERKAITAN DENGAN MASJID BAGAN PETE.

Sejarah Perkembangan Mesjid Bagan Pete

Enam tahun lalu, pada bulan Ramadhan 1427H/ September 2005, ana diundang ikhwan Jambi Kota dengan turut membawa istri. Mereka menawarkan kepada ana agar pindah ke Jambi Kota. Anapun mengusulkan, jika ana menetap di Jambi tidak hanya sekedar mengisi ta’lim saja tetapi berusaha merintis pondok. Ikhwan Jambi Kota yang seniorpun menyetujui seperti Bapak Tafsirun, Abu Faris Salim, Abu Safanah Boyolali dan Salman Abu Addin. Kemudian akhir Syawal, ana dan istri kembali ke Pekanbaru dan mengajar sebagaimana biasa, sambil menunggu info dari ikhwan Jambi Kota kapan waktu yang pas untuk kepindahan ana.

Setelah mendapat info dari Jambi Kota, anapun menemui Dzul Akmal dengan baik-baik, mohon pamit akan pindah ke Kota Jambi. Beliau waktu itu gigih menahan ana, sampai menawarkan, jika tetap bersamanya di Pondok Rimbo Panjang minimal 3 tahun, ana akan diberangkatkan ke Dammaj. Anapun mengucapkan pada beliau jazaakallahu khoir. Ana memilih di Jambi Kota dengan alasan akan membuka (merintis) mesjid (pondok) insya Allah. Ana memohon kepada Allah mudah-mudahan menjadi ganjaran pahala di akhirat nanti. Ketika ana masih di Pekanbaru, mengisi ta’lim bulanan di WKS, Tebing Tinggi, Kec. Tungkal Kab. Tanjung Jabung, Jambi, ikhwan di sinipun beberapa kali menawarkan kepada ana untuk pindah dan menetap di WKS, Tebing Tinggi. Ana tidak siap dengan beberapa alasan dan lebih tepat di Kota Jambi.

Akhir Dzulqo’idah 1427 H bertepatan dengan pertengahan Desember tahun 2005. Ana resmi pindah ke Jambi Kota, mengontrak rumah di Kel. Sei. Kambang yang masih tetangga kelurahan dengan rumah kontrakan ana sekarang. Di Jambi, ana mulai mencari lokasi tanah (masjid), awalnya dapat tawaran orang awam di daerah Mayang kemudian tidak jadi dan terakhir usulan Abu Addin Salman di Bagan Pete pinggiran Kota Jambi. Alhamdulillah dapat wakaf dari orang awam, tanah berbentuk segitiga sisa tanah kaplingan. Di atas tanah inilah sekarang, alhamdulillah telah dibangun 2,5 tahun yang lalu mesjid berukuran 10x10m. Ana bersama Abu Luqman, Abu Addin Salman, Abu Fauzi Agam dan Abu Ubaid Marwan mematok dan menentukan arah Qiblat.

Adapun sumber dana (pembangunan masjid) dari ikhwah seluruh Jambi dan orang awam. Dari awal, ana sudah memegang prinsip tidak mau minta-minta ataupun buat proposal, ketika ada usulan membuat proposal bahkan menyebarkan amplop setelah ta’lim, semuanya ana tolak. Mayoritas dana dari ikhwan Jambi Kota, Purwodadi, Bahar, Tebing Tinggi , Sei. Tapa dan ada juga dari orang awam. Setelah itu membeli tanah untuk perencanaan asrama santri dan rumah wakaf ustadz pondok. Yang mengetahui lokasinya ana dan beberapa ikhwan. Adapun dana membeli tanah mayoritas dari Ikhwah Kota Jambi dan Purwodadi, alhamdulillah mayoritas mereka masih belajar dengan ana. Kemudian ana memberikan amanah kepada Abu Luqman Slamet Sumeri sebagai Pencatat Keuangan , Atho’ Abu Azki yang menerima dana di Tebing, Solihin di Sei. Tapa, Abu Izhar di Purwodadi dan juga sebagai pemegang uang, dan Bapak Humaidi di Sei. Bahar. Setelah 3,5 tahun berjalan, ana mengamanahkan Abu Fauzi Agam sebagai kepala proyek pembangunan mesjid, dan semua laporan kembali kepada ana.

“Wahai Dzul Akmal, apa dalil dari al Qur’an, Sunnah dan atsar salaf bahkan ulama salaf dulu sampai sekarang yang memerintahkan seperti perbuatanmu itu? Bukankah judul daurohmu “Keutamaan Mengembalikan Perkara Ummat Kepada Ulama Salaf”? Bukankah engkau membanggakan diri bahwa engkau bersama ulama kibar? Ataukah engkau berusaha menutupi kebobrokan manhajmu dalam tirai “bersama ulama kibar”. Seharusnya, jika engkau lurus bermanhaj salaf, maka judul daurohmu adalah “Keutamaan Mengembalikan Perkara Ummat Kepada Alqur’an Dan Sunnah Atas Pemahaman Salaf”.”

“Wahai Abul Mundzir, sukakah engkau jika perbuatanmu itu dibalikkan ke masjid atau pondok bahkan rumah megahmu itu? Dan engkau dikembalikan ke daerah asalmu di pariaman Sumatra barat?”

HUKUM MENYAKITI PERASAAN PENERIMA SHODAQOH DAN MENYEBUT-NYEBUT PEMBERIAN

Dari Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya : “Ada tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan Dia tidak melihat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih.” Berkata Abu Dzar, “Rasulullah membacanya tiga kali.” Berkata Abu Dzar, “Mereka bangkrut dan rugi, siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Musbil (orang yang memanjangkan celananya di bawah mata kaki), orang yang menyebut-nyebut pemberian (shodaqoh), dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah dusta.” (HR. Muslim)

“Wahai peserta rapat yang kalian ikut menggoreskan tinta untuk menandatangani notulen, jika kalian tidak mau belajar dengan ana lagi, itu urusan kalian, masih banyak umat yang perlu didakwahi. Tanpa kehadiran kalian pun, dakwah Ahlus Sunnah tetap berjalan dengan izin Allah ta’ala. Akan tetapi sikap kalian tentang masalah masjid, telah membuat marah dan sakit hati ikwah yang masih belajar bersama ana, termasuk ana pribadi. Hal ini bisa kalian lihat sebagaimana lampiran rapat ikhwan Jambi Kota dan Sei. Tapa (bukan berarti kami menganggap bahwa masjid tersebut milik kami pribadi). Karena dari kamilah awal ide merintis masjid, tanah pondok dan penerima shodaqoh untuk pembangunan masjid baik dari ikhwan seluruh Jambi dan orang awam tanpa proposal, meminta-minta, buka nomor rekening maupun penekanan seperti gaya Dzul Akmal.”

“Dan sikap kalian ini, sama saja dengan menyebut-nyebut pemberian apalagi jika sebagian diantara kalian ada yang tidak ikut membantu (shodaqoh), maka ini lebih memalukan lagi. Bukan berarti kami meremehkan yang tidak ada shodaqoh dari peserta rapat yang ikut menandatangani notulen kepada masjid kami.

Allah ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [٢:٢٦٢[

قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ [٢:٢٦٣[

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [٢:٢٦٥[

Artinya:

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-menyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan penerima). Mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, perkataan yang baik dan pemberian ma’af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah maha kaya lagi maha penyantun. Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima). Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian maka perumpamaan itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al Baqoroh : 262 -265)

C. PENEKANAN DZUL AKMAL AGAR MUHAMMAD SURUR DAN ABDURRAMAN MAHDI MENGAKTIFKAN DAKWAH DI JAMBI

“Wahai Abul Mundzir, bukankah engkau yang dulu mempopulerkan fatwa Syaikh Muhammad bin Hadi bahwa Luqman Ba’abduh adalah hizby? Dan fatwa Syaikh Robi’ “Saya khawatir Luqman adalah mata-mata ikhwanul muslimin dalam dakwah salafiyah”?, ucapan Usamah Ath-Thoya bahwa Luqman telah menempuh jalan (metode) yang ditempuh oleh rafidhah. Artinya, Muhammad Surur dan Abdurrohman Mahdi adalah murid hizby.

Adakah orang yang datang ke dauroh engkau di Jambi memboikot Luqman dan kawan-kawan sebagaimana mereka memboikot ana sekarang? Justru yang datang adalah mayoritas Luqmaniyyun, yang masih membenci engkau. Bukankah kemarin engkau masih mentahdzir Luqman Ba’abduh dan murid-murid pembelanya? mempopulerkan juga fatwa Syaikh Yahya ;

  1. Engkau menelpon Abu Pasya Ponco agar Muhammad Surur jangan diterima lagi tinggal di rumahnya.
  2. Berkata Suhardiman Muaro Bungo, Jambi, “Ana telpon Ustadz Dzul Akmal tentang Muhammad Surur.” Kata Dzul Akmal, “Jangankan isi ta’lim di Muaro Bungo, berkunjungpun jangan engkau sambut.”
  3. Engkau pernah menelpon ana dan berkata : “Abu Roziq Jakarta telpon ana bahwa Yuda Abu Ihsan Jambi mau berbicara dengan ana, maka ana (Dzul Akmal) menjawab, ana tidak mau berbicara dengannya”. Dengan bangganya engkau (Dzul Akmal) berkata kepada ana “Lihat ana wahai Muhammad Ja’far, ana tegas terhadap Luqmaniyun, sampai tidak mau berbicara”.

Sekarang apa yang engkau lakukan? Berbicara dan berkumpul, merapat dan merekomendasi mereka tanpa ishlah? Atau sekarang engkau menerapkan kaidah ikhwanul muslimin “Kita Saling Menolong Pada Apa Yang Kita Sepakati Dan Saling Toleransi Pada Apa Yang Kita Perselisihkan”? Atau slogan politikus “Tidak Ada Musuh Yang Abadi Dan Tidak Ada Kawan Yang Abadi, Yang Abadi Adalah Kepentingan”?.

Wahai Abul Mundzir, engkau bertemu kepentingan dengan Luqmaniyun. Wahai Abul Mundzir, jika ada asatidzah yang isi dauroh ke Perawang (Riau) langsung engkau tahdzir contoh : Abdul Barr engkau gelari dajjal, Hanan bahannan dajjal, Ustadz Ali Basuki syetan bisu, Ustadz Usamah Mahri bermasalah dan sedang dipantau oleh Syaikh Robi’.

“Sekarang engkau datang ke Jambi, gelar apa yang pantas untukmu???”

D. INSTRUKSI DZUL AKMAL YANG TIDAK TERDAPAT DALAM SURAT

Allah ta’ala berfirman :

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ [٢٢:٣٢]

Artinya : Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS. Hajj : 32)

Wahai peserta rapat Dzul Akmal, sungguh perbuatan kalian telah membongkar jati diri kalian sendiri. Benar-benar sebuah ujian memisahkan orang-orang yang jujur dan yang tidak jujur.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ [٢٩:٢]

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [٢٩:٣]

Artinya : “Apakah manusia mengira bahwasanya mereka itu dibiarkan mengatakan kami beriman dalam keadaan mereka itu tidak diuji? Sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut 2-3)

Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah :

Ujian dan cobaan itu akan menampakkan jati diri orang-orang maka alangkah cepatnya orang-orang yang mengaku-ngaku itu terbongkar keasliannya.” (Badaiul Fawaid 3/hal 751).

Al Imam Al Wadi’iy rohimahullah berkata :

“Dan barang siapa bergaya bukan dengan sifat aslinya, saksi-saksi ujian akan menyingkap jati dirinya.”

Dan semua ini kalian lakukan dengan sengaja di majelis ta’lim dan tanda tangan pun dalam majelis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Artinya : “Tidakkah Aku mengkhawatirkan terhadap kalian kemiskinan akan tetapi Aku mengkhawatirkan kalian belomba-lomba dalam memperbanyak keduniaan. Dan tidaklah Aku mengkhawatirkan terhadap kalian kesalahan yang tidak disengaja, akan tetapi Aku mengkhawatirkan terhadap kalian kesalahan yang disengaja.” (HR.Ahmad 8060, dari Abu Huroiroh)

Pada zaman kita ini tidak ada turun wahyu lagi, maka kita mengetahui hakikat sekarang, seperti ucapan Umar bin Khottob :

Artinya : “Barangsiapa yang menampakkan kepada kami kebaikan, kami merasa aman dan kami dekati serta kami benarkan. Dan siapa saja yang selain itu, kami tidak akan mempercayainya dan tidak merasa aman, walaupun ia berkata sesungguhnya hatiku ini baik.”

Artinya : “Dahulu orang-orang pada zaman Rasulullah di nilai dengan wahyu, sedangkan wahyu telah terputus. Sekarang kita menilai kalian dengan apa yang nampakbagi kita dari perbuatan kalian, maka barangsiapa yang menampakkan kepada kita suatu kebaikan maka kita merasa aman dan kami dekati, dan adapun yang tersembunyi dalam hatinya, Allah-lah yang akan memperhitungkannya. Dan barangsiapa yang menampakkan kepada kita suatu kejelekkan maka kita tidak akan mempercainya dan tidak akan membenarkannya walaupun dia mengatakan hatinya baik.”

Ternyata Sabtu malam setelah ta’lim sebentar, Dzul Akmal memimpin rapat yang tertuang dalam surat pernyataan (terlampir). Adapun instruksi Dzul Akmal yang tidak tertulis di surat pernyataan adalah sebagai berikut :

  1. Memerintahkan Muhammad Surur, jika tidak bisa mendapatkan kunci masjid, agar membawa tukang kunci ke masjid dan menjebolnya,
  2. Memerintahkan peserta rapat agar memulangkan ana ke Pekanbaru, Riau atau keluar dari Jambi.

Ini adalah pengakuan sebagian peserta rapat Sabtu malam (dauroh Dzul Akmal) seperti Awanah, Furqon, bahkan dari Abu Izhar dan Sholihin, dia berkata “Hud Huda menelpon ana minta dukungan agar Ustadz Muhammad Ja’far dipulangkan”.

POTRET UTUSAN PESERTA DAUROH

Kenapa utusan peserta dauroh yang menyerahkan surat pernyataan adalah Hud Huda Abu Kholid Padang? Bukankah ada yang lebih tua umurnya yaitu Abu Pasya Ponco. Dan selama ana di Jambi (Alhamdulillah ana sudah masuk tahun ketujuh di Jambi), Hud Huda hanya beberapa kali mendatangi ta’lim ana. Padahal yang pantas menjadi jurubicara dalam sebuah urusan[3] adalah yang umurnya tertua sebagaimana dalam hadits :

Dari Abu Muhammad Sahl bin Abu Hatsmah Al Anshary radhiyallahu’anhu berkata, “’Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah bin Mas’ud pergi ke Khaibar, sedangkan pada waktu itu adalah masa damai maka keduanya berpisah. Kemudian ketika Muhayyishah datang ke tempat ‘Abdullah bin Sahl, ia telah berlumuran darah karena terbunuh, maka Muhayyishah langsung menanamnya. Setelah itu ia ke Madinah, kemudian ‘Abdurrahman bin Sahl, Muhayyishah bin Mas’ud dan Huwayyishah bin Mas’ud datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ‘Abdurrahman mulai membuka pembicaraan, maka beliau bersabda, “Yang tua, yang tua berbicara lebih dulu”. Karena ‘Abdurrahman adalah orang yang termuda maka diamlah ia, serta Muhayyishah dan Huwayyishah berbicara (menceriterakan tentang peristiwa yang baru saja terjadi). Beliau lantas bersabda: “Apakah kamu sekalian mau bersumpah dan menuntut hak kepada orang yang membunuhnya?”” (Hadits ini masih ada lanjutannya). (Riwayat Muslim).[4]

Dalam surat pernyataan disebutkan “Kami Seluruh Ikhwan Salafiyin Wilayah Jambi”. Wahai Abul Mundzir, jujurlah. Berapa orangkah yang mendatangi daurohmu, dari Tebing Tinggi, Sei. Bahar, dan Kota Jambi sehingga tertulis “Seluruh Ikhwan Salafiyin”. Alhamdulillah, mayoritas ikhwan Jambi masih tetap ta’lim dengan ana. Atau apakah antum dan ikhwan yang menandatangani pernyataan tersebut, menganggap ikhwah yang tidak menghadiri dauroh antum itu maupun yang tidak menandatangani kertas pernyataan antum itu bukan ikhwah salafy?” Oleh Karenanya ikhwah Jambi yang lain sangat marah, justru yang banyak berperan dalam hal pembangunan masjid adalah ikhwah yang masih ta’lim sama ana. Walaupun tidak ana pungkiri bahwa diantara yang menandatangani pernyataan tersebut ada yang turut bershodaqoh untuk masjid. Namun itu mereka berikan sukarela. Ana tidak meminta-minta atau melalui proposal.

“Ya buya… apa antum berangan-angan ingin menjadi “datuak bagindo rajo”? tak cukupkah gelar Ustadz Kibar?? Sehingga mengintruksikan kepada pengikut kamu untuk memulangkan ana? Betapa sempitnyakah hatimu dengan keberadaan ana di Jambi?”

“Ya Dzul Akmal… Alhamdulillah atas izin dan ni’mat Allah ta’ala, sampai sekarang ini ana masih di Jambi dan masih menjalankan ta’lim seperti biasa. Tidak seperti omong kosongmu dan kedustaanmu yang kamu umbar kemana-mana. Salah satu daerah tempat kamu umbar omonganmu adalah sumatera utara yang mana ana sempat di telepon oleh beberapa ikhwah yang salah satunya juga Ustadz Fadhil Muhammad al Hadromi Medan, menanyakan keadaan dan keberadaan ana, setelah daurohmu di Jambi dan beliau hafidzohumullah menyebutkan bahwa mendengar kabar dari ikhwan yang bersumber dari kamu ya Dzul?? Bahwa ana telah diusir oleh ikhwan Jambi dan mengatakan kalau ana sudah di bengkulu.”

 

MENGUKUR AKAL DZUL AKMAL

Berkata Yahya bin Kholid :

ثلاثة أشياء تدل على عقول أربابها الكتاب تدل على عقل كاتبه والرسول على عقل مرسله والهدية تدل على عقل مهديها

“Ada tiga perkara yang menunjukkan akal pemiliknya, kitab menunjukkan akal penulisnya, utusan menunjukkan akal sang pengutus, hadiah menunjukkan akal sang pemberi.” (Al Aqdul Farid 1/hal 170).

Adapun utusan peserta dauroh adalah Hud Huda Abu Kholid, datang ke rumah ana pagi hari menyerahkan surat pernyataan dan lembaran fatwa Syaikh Muhammad Ibn Hadi, seraya berbicara hal pinjam kunci Masjid Bagan Pete untuk pihak Muhammad Surur dan Abu Pasha Ponco. Terkait kedatangannya tersebut, sebenarnya ana sudah tahu fakta sebenarnya dari pengakuan salah seorang peserta dauroh. Hud Huda juga menyebutkan bahwa dia sudah mendapatkan persetujuan Abu Addin Salman tentang peminjaman kunci Masjid. Namun tatkala ana hubungi Abu Addin Salman, dia tidak mengakui telah memberikan persetujuan kepada Hud Huda. Siapa jujur dan siapa yang dusta??

Padahal Hud Huda ini, selama di Jambi, mendatangi ta’lim hanya beberapa kali saja dan sebenarnya ada yang lebih tua dari dia dan sering mendatangi ta’lim yaitu Abu Pasha Ponco. Dalam pembicaraan via telepon bahkan via sms, ana sudah memberikan saran kepada Hud Huda untuk datang bersama Abu Pasha Ponco dan anapun ditemani oleh 2 ikhwan. Ini sms ana kepada Hud Huda : “Bismillahi, afwn, krn ini brkaitn dg mslh d’wah dn msjd, ana tdk trm kdtangan antm kec ditemani jg dg pak pnco, krn td antm mnybutkan nma bliau di tlp, kmdian slm ni di jmb t’lim sm ana, anapun nti dtemani jg 2 org ikhw yg mwkili yg lain. Sbgmana kata antm td, ini bkn mslh pribdi kita dn paling pnting jgn lupa bw notulen hsil rpat klian dan rkaman lgkp sbt-ahad, sbgai pjakan pembicaraan. Wlwpun antum dtg dg pak pnco tp jk tdk mbw 2 bkti ini ana tdk bs.

“Wahai Dzul Akmal bukankah kamu dulu beberapa tahun lalu (waktu dauroh Bantul) kamu mencaci maki Hud Huda? Dan ana tidak sampaikan lagi ucapan kamu kepadanya. Bukankah kamu yang mendengungkan “bersama orang tua?” Mestinya yang menemui ana adalah Abu Pasya yang umurnya tertua dan lama ta’lim. Bukankah Hud Huda, yang ta’lim hanya beberapa kali umurnya lebih muda di bandingkan Pak Amir dan Pak Ponco, dan kamu pun telah mencaci maki dan mencelanya?”

Setelah kejadian itu (kedatangan Hud Huda), ana menyerahkan kunci masjid kepada Pak Tafsirun dan ana memberitahu Hud Huda via sms bahwa kunci masjid ana serahkan ke Pak Tafsirun, silahkan temui beliau. Sebelumnya kunci di pegang beberapa ikhwan, kemudian saran Abu Izhar ana yang pegang kunci dengan harapan jika yang datang dari peserta dauroh minta kunci datang dengan beradab, ternyata apa yang terjadi adalah di luar dugaan. Kemudian beberapa hari setelah itu ana utus Pak Tafsirun (penanggung jawab ta’lim) dan Sumeri (pemegang pembukuan pembangunan masjid) agar berkunjung ke rumah Pak Ponco untuk berdialog baik-baik, ternyata di luar dugaan Pak Ponco tidak berkenan menerima tamu, dan berkata, “Serahkan kunci masjid saja.” Seandainya Abu Pasha berkelit tentang hal itu (ada uzur tidak bisa menerima tamu) kenapa dia tidak menentukan pertemuan di hari lain.

Ana pun sempat telepon Abu Mujahid Tebing bicara masalah masjid. Kemudian setelah itu dia sms ana : afwan kami tak mau bahas itu lg, cukup sms + tlp td siang. Bab masjid krn pemeran utama ikhwan Jambi. Silahkan selesaikan dgn mrk. Ikhwan Tebing hanya mendukung k tuk kebaikan, itupun dah pada pergi 1 per 1 meninggalkan Jambi.

Wahai Abu pasya Ponco, siapakah “pemeran utama” ikhwan Jambi? Sementara yang ikut tanda tangan adalah antum, Hud Huda, dan Dzulkifli.”

Sungguh apa yang kamu lakukan dan juga mereka yang menandatangani notulen “rapat”-mu menampakkan makar, kejahatan terhadap tanah masjid, ikhwan atau ummahat yang masih ta’lim dengan ana dan terhadap ana pribadi karena kamu menghasut peserta rapat-mu untuk memulangkan ana dan itu dilaksanakan oleh Hud Huda (orang yang dulu kamu cela dan maki), dengan mencari dukungan.

Wahai Hud Huda kamu juga dulu telah menceritakan sakit hatimu terhadap Dzul Akmal yang memalukan dalam safar umroh dan kebiasaan minta-minta kepada kamu, ternyata kamu bisa lengket lagi dengannya bahkan sekarang telah menjadi pesuruh Dzul Akmal.

Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Artinya : “Ruh (batin) itu bagaikan barisan bala tentara, mana yang ada kemiripan dia akan berkumpul dan mana yang ada perbedaan darinya, dia berpisah (menjauh).”

Berkata Umar bin Al Khothob dalam Shohih Al Bukhori :

Artinya : “Dahulu orang-orang pada zaman Rasulullah di nilai dengan wahyu, sedangkan wahyu telah terputus. Sekarang kita menilai kalian dengan apa yang nampak bagi kita dari perbuatan kalian maka barangsiapa yang menampakkan kepada kita suatu kebaikan maka kita merasa aman dan kami dekati, dan adapun yang tersembunyi dalam hatinya, Allah-lah yang akan memperhitungkannya. Dan barangsiapa yang menampakkan kepada kita suatu kejelekkan maka kita tidak akan mempercainya dan tidak akan membenarkannya walaupun dia mengatakan hatinya baik.”

Wahai peserta rapat, oleh karena itu kami tidak mempercayai kalian dan tidak mendekat dengan kalian dan kami berlindung kepada Allah daripada kejelekan yang kalian lakukan walaupun kalian berkelit untuk kebaikan sebagaimana sms Abu Mujahid Tebing.

Berkata Ustman radhiyallahu’anhu, “Tidaklah seseorang menyembunyikan isi hati kecuali Allah azza wa jalla akan menampakkan pada rona wajahnya dan celotehan lisannya.”

Juga dalam ucapan Salaf,

Artinya : “Apabila seseorang bisa menyembunyikan bid’ahnya, maka bid’ah tersebut akan terlihat pada anaknya, temannya atau celotehannya lisannya.”

Oleh karena itu apabila seseorang bisa menyembunyikan pemikiran ataupun penyimpangannya. Maka itu akan tampakdan terlihat pada istri, anak, dan lisannya.

 

SIKAP TIDAK JUJUR

Dari Anas bin Malik bersabda Rasulullah, “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”. (muttafaqun ‘alaihi)

Dalam riwayat lain, “Sehingga dia mencintai untuk saudaranya suatu kebaikan yang dicintainya untuk dirinya sendiri”. (HR. Nasa’i)

Hadits ini adalah pedoman keimanan setiap kaum muslimin dan merupakan prinsip yang harus dipegang setiap muslim dalam bergaul. Hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya suka apabila di perlakukan orang, seperti yang saya lakukan ini?” Bila jawabannya adalah “YA”, maka silahkan berbuat dan apabila jawabannya “TIDAK”, maka janganlah lakukan perbuatan tersebut.

“Wahai Abul Mundzir, kenapa tidak sekalian masjid ma’hadmu Utsman bin Affan Rimbo Panjang juga diaktifkan dengan bimbingan Ustadz Luqman Ba’abduh, Ustadz Asykari, Ustadz Muhammad Sarbini, Ustadz Hanan Bahannan dan seluruh asatidzah se-Indonesia?”

“Wahai Abul Mundzir, apakah engkau mengira tanah dan pembangunan masjid Jambi seperti masjid ma’hadmu?[5] Minta kesana kemari, buka nomor rekening, menekan para ikhwan yakni jika infaq dan shodaqoh macet kemudian marah-marah dan memaksa, harus ikut gotong royong jika tidak datang maka membayar dengan jumlah yang sudah ditentukan. Apakah seperti ini fatwa ulama salaf yang engkau pahami dalam cara membangun masjid dan pondok?

Tanggapan :

Wahai peserta tanda tangan notulen rapat dauroh Dzul Akmal, renungkanlah !

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ] ٦:١٧[

Artinya : “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am : 17)

Dalam Hadits Nabi, Dari Abul 'Abbas 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, "Pada suatu hari aku pernah dibonceng di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,” lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah engkau akan menemukannya di depanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya umat bersatu memberi suatu manfaat padamu, tidaklah mereka bisa memberi manfaat kepadamu kecuali atas sesuatu perkara yang sudah Allah tulis untukmu. Dan jika meraka bersatu untuk memberi bahaya kepadamu dengan sesuatu perkara, tidaklah mereka bisa membahayakanmu kecuali atas perkara yang sudah ditulis atasmu. Diangkat pena-pena dan telah kering lembaran-lembaran.” (HR. Tirmidzi, dan berkata hadits hasan shohih, lihat arba’in Nawawi hadits ke-19).

Wahai Abul Mundzir beginikah caramu mengagungkan rumah Allah, dan mendidik ummat atas nama pemahaman salaf? Dengan memprovokasi orang merebut masjid, bahkan memerintahkan menjebol pintu masjid? Yang mana harta kami lebih, dalam pembangunan masjid tersebut. Ya buya, apa jasa kamu terhadap masjid Bagan Pete? Apakah hakikat dakwahmu seperti ini? Kami tidak heran lagi, karena salah seorang pentolan pendukungmu di Kota Jambi mendoktrin mad’u baru dengan slogan ”dakwah salafiyah ini, anggap saja seperti perusahaan-perusahaan atau sebagaimana kita di PKS (yang keduanya mantan PKS).”

Apabila atasan perusahaan atau pimpinan atas PKS memecat bawahan ikuti saja, jika dibilang oleh Ustadz pimpinan jangan belajar dengan Ustadz yang di bawah, ya ikuti saja. Karena Ustadz besar tidak mungkin salah. Tampaklah kambuh lagi penyakit hizbi, pendukung kamu itu di Jambi wahai Dzul Akmal yang tampakjelas pemikiran muqolid (orang yang taqlid).

Ya Dzul Akmal!! Kalau saya pinjam omongan tersebut apakah selama pembangunan masjid Bagan Pete Jambi, adakah ana dan panitia pembangunan masjid minta restu pada atasan (kamu Dzul Akmal) dan meminta sumbangan dana pada atasan (kamu)??? Dan apakah sang atasan perusahaan ada menggaji bulanan pada panitia pembangunan? Jadi kesimpulannnya : sang buya Dzul Akmal dalam pergerakannya kali ini memakai metode hizbi IM “ kita bekerja sama (tolong-menolong) dalam perkara yang kita sepakati dan memberi udzur dalam perkara-perkara yang kita perselisihkan”. Yakni, sekarang makarnya yang di Jambi dia bekerja sama dengan Muhammad Surur murid Luqman Ba’abduh yang sudah jauh lebih dulu Dzul Akmal menghizbikannya. Bahkan pembeonya pun berucap demikian sebagaimana ana sebutkan tadi.

Pemahaman Atau Warisan Dari Aliran-Aliran Di Luar Ahlussunnah Wal Jama’ah

Tidak bisa ditutupi atau diingkari bahwa banyak diantara kita baik asatidzah ataupun bukan asatidzah sebelum mengenal dakwah (manhaj) salaf, pernah mengikuti berbagai kelompok-kelompok di luar ahlussunnah seperti Ikhwani atau PKS, Jama’ah Tabligh, Sufi, Hizbut Tahrir, NII, dll.

Hal ini fakta yang tidak bisa dilupakan agar kita selalu bersyukur kepada Allah yang telah memberikan taufik, hidayah kepada kita sehingga kenal dan bahkan mengamalkan manhaj salaf. Agar kita juga selalu hati-hati dan introspeksi diri dalam setiap pemahaman, ucapan dan sikap kita agar jangan sampai pemahaman, ucapan, celotehan dan sikap kita, masih terpengaruh atau muncul dan kembali lagi dengan pemahaman, ucapan saat masa bersama dengan kelompok-kelompok tersebut.

 

KEBUSUKAN LAIN MAKAR DZUL AKMAL DAN LUQMANIYYUN DI JAMBI

1. Rencana jahat

Setiap ahlu bathil pasti menyembunyikan kebathilannya sampai waktu yang di anggap tepat untuk di keluarkan, Firman Allah Ta’ala :

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا [٤:١٠٨]

Artinya : “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah. Padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhoi. Dan Allah maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An Nisa : 108)

Firman Allah Ta’ala :

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ [٨:٣٠]

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya itu dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal : 30)

Selama kamu (Dzul Akmal) di Jambi, kamu dan pengikutmu telah membuat rencana jahat terhadap masjid dan terhadap ana pribadi.

2. Menyebar Berita-Berita Dusta

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [٢٤:١٩]

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An Nur : 19)

Di antara berita dusta yang di sebarkan :

1) Diisukan ana datang ke masjid dauroh Dzul Akmal kemudian di usir ikhwan,

2) Ana sudah pindah ke Bengkulu.

3. Makar Merebut Masjid.

Berkata Ibnul Qoyyim tentang definisi makar : “Hakekat makar adalah menampakkan suatu perkara dan menyembunyikan sebaliknya (perkara sebenarnya) agar cara tersebut sampai kepada tujuan.” (Igotsatul Lahfan 1/388)

Allah Ta’ala mensifati orang-orang yang membuat makar (rencana jahat), sebagaimana firman-Nya :

وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ

Artinya : “Rencana yang jahat (makar) itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (QS. Fathir : 43)

Dan membuat makar adalah kebiasaan buruk musuh para Nabi, Allah Berfirman :

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ [٦:١٢٣]

Artinya : “Dan demikianlah kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri sedang mereka tidak menyadari.” (QS. Al An’am : 123)

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ [٨:٣٠]

Artinya : “Mereka membuat makar (tipu daya) dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas makar.” (QS. Al Anfal : 30).

4. Rencana Membuat Yayasan Untuk Menguasai Tanah Masjid Bagan Pete.

Ana sudah menegakkan hujjah di majelis-majelis ana tentang permasalahan yayasan[6]. Bahkan ana sudah menolak mendirikan yayasan di Tebing sekitar 5 tahun lalu. Ketika itu tanpa musyawaroh dari ana, tiba-tiba setelah ta’lim ana diberitahu oleh Abu Ukasyah bahwa notaris sudah datng untuk membuat yayasan. Tapi ana menolak di depan mereka semua (ikhwan dan notaris).

BERIKUT INI ADALAH FATWA TERBARU SYAIKH ROBI’ BIN HADI AL MADKHOLI, BAHWA YAYASAN SARANA PERPECAHAN

Segala puji bagi Alloh, salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga-nya serta seluruh sahabat-nya.

Kemudian setelah itu:

Sungguh saya telah berkunjung kepada Syaikh dan orang tua kita yang mulia Robi’ ibn Hadi Umair Al-Madhkoly -semoga Alloh menjaganya- bertepatan pada hari Senin sore tanggal 15 Sya’ban 1432 H dan diantara pertanyaan yang saya ajukan kepada beliau adalah :

“Apa hukum mendirikan yayasan-yayasan sosial , agar saudara-saudara salafiyyun di Tunisia dapat mendatangkan para ulama untuk melakukan proses pelajaran dan daurah ilmiyyah melalui yayasan-yayasan tersebut ?”

Maka beliaupun menjawab :

“Saya berpendapat , sesungguhnya yayasan adalah salah satu penyebab terpecah-belahnya salafiyyun dan munculnya kelompok-kelompok hizby, maka saya nasehatkan agar menjauhkan diri dari yayasan-yayasan tersebut, dan sebaiknya mereka menuntut ilmu di mesjid-mesjid dan saya melihat tidak bolehnya mereka bergabung dalam yayasan tersebut. (Apabila mereka tidak mampu menjalankan proses belajar-mengajar di mesjid maka bagi mereka untuk belajar dirumah-rumah mereka).”

Selesai jawaban beliau.

Kemudian saya bertanya kepada beliau, “Apa hukum mendirikan pondok pesantren sebagai pusat menuntut ilmu dibawah naungan yayasan ?”

Maka beliau menjawab :

“Hendaknya mereka, melaksanakan proses belajar mengajar di mesjid-mesjid – semoga Alloh memberikan keberkahan padamu.”

selesai jawaban beliau.

Maka kita memohon kepada Alloh subhanahu wa ta’ala untuk saudara-saudara kita di Tunisia agar Alloh memberikan kepada mereka petunjuk dan kebaikan , dan semoga Alloh memberikan taufiq untuk mengambil ucapan para ulama karena di dalamnya ada kebaikan, petunjuk, cahaya dan kebenaran. Dan Alloh-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui , salam dan salawat senantiasa tercurah kepada

Nabi kita Muhammad , keluarganya dan para sahabat-nya

Ditulis oleh :

Hamid Ibnu Khamis Ibnu Robi’ Al-Junaiby

1 Ramadhan 143H

Diterjemahkan oleh saudara kalian Abu Muqbil Ali Abbas bin Harun

Kerusakan-kerusakan yayasan :

  • Menyelisihi jalan salaf
  • Menyerupai orang kuffar
  • Memberat-beratkan (takalluf) dengan perkara yang tidak di syari’atkan
  • Meminta-minta (tasawul)
  • Menggambar makhluk bernyawa
  • Tipu muslihat mengambil harta manusia dengan bathil
  • Fitnah dengan dunia
  • Menyibukkan dari menuntut ilmu
  • Meletakkan harta di bank ribawi
  • Tunduk pada undang-undang buatan manusia
  • OrganIsasi
  • Pemilu (demokrasi)
  • Kepemimpinan di waktu mukim
  • Hizbiyyah
  • Gerakkan rahasia

“Wahai Dzul Akmal!! Jika peserta daurohmu meneruskan membuat yaysan, maka jelaslah kalian mengedepankan hawa nafsu dari pada dalil dan mengambil fatwa ulama yang sesuai dengan hawa nafsu.”

5. Melobi pemilik tanah wakaf (Bapak Fauzan) agar tanah tersebut di serahkan kepada mereka.

6. Hasad.

Perbuatan Dzul Akmal, Muhammad Surur, Abdurrahman Mahdi dan para peserta rapat lainnya adalah hasad.[7] Definisi hasad adalah kebencian atas perkara kenikmatan yang Allah berikan kepada seseorang. Dan hasad itu bukan saja mengharapkan hilangnya kenikmatan tersebut dari orang lain, bahkan sekedar dia benci kalau ni’mat itu pada orang lain.

Sebagaimana yang di katakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Hasad adalah kebencian seorang manusia jika ni’mat itu di berikan kepada saudaranya.”

Hasad merupakan sifat orang yahudi, hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala :

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۖ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُم مُّلْكًا عَظِيمًا [٤:٥٤]

Artinya : “Ataukah mereka dengki (iri hati) kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrohim dan kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (QS. An Nisa : 54)

Bahkan yahudi ingin kenikmatan (Al Qur’an) itu diberikan di kalangan mereka, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ [٤٣:٣١]

Artinya : Dan mereka berkata “Mengapa Al Qur’an ini tidak di turunkan kepada seorang (tokoh) besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaif) ini?” (QS. Az Zukhruf : 31)

Berkata Syaikh Soleh bin Fauzan[8], “Tokoh ini adalah al Walid bin al Mughiroh di Makkah atau Habib bin Amr ats-Tsaqofi, pendapat lain ‘Urwah bin Mas’ud di Thaif.”

Firman Allah ta’ala :

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ [٢:٨٩]

Artinya : “Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS. Al Baqoroh : 89)

Berkata Syaikh Soleh bin Fauzan[9], “Tatkala diutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berasal dari bani Ismail, mereka dengki kepada beliau karena mereka (yahudi) ingin kenabian di berikan pada bani Isroil dan mereka melarang (menutup) kenabian tersebut untuk diri mereka sendiri. Mereka dengki dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka mengetahui beliau adalah Rasulullah dan tidak bermanfaat lah pengetahuan dan pemahaman mereka.”

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ [٢:١٤٦]

Artinya : Orang-orang (Yahudi dan Nashroni) yang telah kami berikan Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al Baqoroh : 146)

Hasad inilah yang menggiring Yahudi hingga kuffur kepada Allah dan mengingkari kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala tidak berasal dari kalangan mereka.

Berkata Syaikh Utsaimin[10], “Kemudian orang yang dengki (iri hati) terjatuh dalam bahaya-bahaya :

  • Kebenciannya terhadap taqdir Allah, sesungguhnya kebenciannya terhadap ni’mat Allah atas seseorang merupakan kebencian terhadap taqdir Allah secara kauni dan penentangan terhadap Qodho Allah ta’ala.
  • Sesungguhnya hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar kebanyakan orang dengki itu bersikap melampaui batas dengan membicarakan korbannya (orang yang di dengki) dengan perkara yang dia benci sehingga manusia menjauh dari orang tersebut, ataupun merendahkan kedudukannya atau semacam itu. Dan ini adalah dosa besar yang menghapus kebaikan-kebaikan.
  • Pada hati orang dengki tersimpan duka cita, nyala api yang akan melahapnya sekali lahapan. Setiap kali dia melihat Allah memberikan ni’mat pada orang (yang di dengki), hatinya marah dan dadanya sempit. Ia akan selalu mengawasi orang ini dan setiap kali orang itu di beri ni’mat oleh Allah maka ia sedih, marah dan dunia menjadi sempit baginya.
  • Orang yang dengki ini menyerupai perilaku Yahudi, telah di ketahui bahwa siapa menyerupai salah satu dari perilaku orang kafir maka ia termasuk dalam golongan mereka pada perangai ini. Karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Artinya : “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk darinya.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud)

  • Bahwasanya orang yang dengki ini sekalipun ia dengki kepada orang lain, dia tidak akan bisa menghilangkan ni’mat Allah selama-lamanya dari orang tersebut. Jika hal ini tidak mungkin terjadi sebagaimana hasad ini ada dalam dirinya.
  • Bahwasanya hasad itu menolak kesempurnaan iman. Karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Artinya : “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Maka keharusannya engkau tidak suka apabila ni’mat Allah itu hilang dari saudaramu. Jika engkau tidak membenci hilangnya ni’mat Allah atasnya, maka engkau tidak suka bagi saudaramu sesuatu yang engkau suka bagi dirimu, maka ini bertolak belakang dengan kesempurnaan iman.

  • Bahwasanya hasad itu menyebabkan pelakunya berpaling dari meminta keutamaan dari Allah ta’ala, maka engkau akan mendapatkan dirinya selalu menginginkan (meminta) keni’matan yang diberikan oleh Allah kepada orang lain. Dan tidak meminta dari Allah berupa keutamaan-Nya, dan firman Allah :

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا [٤:٣٢]

Artinya : Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An Nisa : 32)

  • Sesungguhnya hasad itu menyebabkan pengabaian ni’mat-ni’mat Allah atasnya yaitu orang yang hasad itu merasa dia tidak di beri ni’mat, sedangkan orang yang dia dengki berada (dia iri atasnya) di dalam ke ni’matan yang lebih besar darinya dan saat itulah dia menyepelekan ni’mat-ni’mat Allah atas dirinya dan dia tidak bersyukur.
  • Hasad adalah akhlaq tercela, karena orang yang hasad mengawasi ni’mat-ni’mat Allah pada makhluq-Nya di tengah masyarakatnya. Berusaha semampunya untuk menghalangi antara manusia dan orang yang dia dengki, kadangkala dengan menurunkan status orang yang dia dengki atau dengan merendahkan kebaikan yang dia perbuat.
  • Bahwasanya orang hasad jika dia mendengki seringkali bersikap melampaui batas terhadap orang yang didengki. Maka orang yang dia dengki mengambil kebaikan-kebaikannya (pada hari kiamat) jika masih tersisa dari kebaikan-kebaikannya (orang yang dengki), jika habis maka diambil kejelekan orang yang dia dengki dan dilemparkan kepadanya (orang yang dengki) kemudian dia (orang yang dengki) dilempar ke neraka.”

Kesimpulannya : bahwa hasad adalah akhlak tercela dan disayangkan sifat ini paling banyak ditemui dikalangan ulama dan penuntut ilmu. Dan ditemukan juga sesama pedagang dan sesama pegawai, akan tetapi sangat disayangkan apabila hasad terjadi sangat keras diantara ulama bahkan diantara penuntut ilmu lebih keras lagi. Padahal sepantasnya ahlul ilmi paling jauh dari sifat dengki dan manusia yang paling dekat kepada kesempurnaan akhlaq.

“Wahai Dzul Akmal, Muhammad Surur, Abdurrahman Mahdi dan seluru peserta rapat, bahkan kalian telah meniru perbuatan Yahudi dan “tergelincir” dalam bahaya-bahaya hasad. Semoga ana sekeluarga dan salafiyyin di Jambi dilindungi Allah ta’ala dari makar dan hasad kalian.”

“Wahai Dzul Akmal!! Kamu menjarh (mencela) Ustadz Abdul Barr Lahat sebagai hasuud, karena dia datang mengisi dauroh di Riau. Coba kamu renungkan jangan congkak dan sombong terus wahai buya!! Mana yang lebih besar kejahatan atau keburukan yang engkau lakukan di Jambi dibandingkan apa yang dilakukan Ustadz Abdul Barr di Riau?? Maka sepantasnya jarhmu itu kembali ke mukamu, dasar kamu hasuud, tidak punya malu dan tidak punya harga diri, minta-minta kunci masjid, pakai surat pernyataan lagi.”

Nasalullah Salamah wal ‘Afiyah

-SELESAI-

 

Ditulis oleh :

Abu ‘Abdillah Muhammad Ja’far Al Kampari

Di Kota Jambi, Senin 23 Muharram 1433 H

—-> Untuk download artikel + bukti scan surat pernyataan peserta “Rapat” format .pdf : Klik Di Sini

 


[1] Sebagiannya ana terjemahkan dari pertengahan hal 3-5, berkaitan masalah ghuluw, Imam Tsaqolain (jin dan manusia) dan syiir pujian terhadap Syaikh Yahya. Ini untuk mempersingkat.

[2] Dengan membawa dalil Al Quran dan Hadits , jika ana memang melakukan kesalahan dan telah antum nasehati!! Tapi apalah hendak dikata, sudah menjadi adat Dzul Akmal setiap orang yang tidak dia senangi atau tidak cocok dengan hawa nafsunya, bukan dengan cara menegakkan hujjah Al Quran dan Sunnah atas orang tersebut. Tapi dengan cara mengadu pada ulama dengan membuat ucapan-ucapan kemudian pulang mengatasnamakan Syaikh.

[3] Duniawi.

[4] Adapun dalam masalah keilmuan adalah orang yang paling berilmu. Dalam hadits Ibn Abbas (Barokah itu bersama orang-orang besar kalian) di shahihkan Syaikh Albani di Silsilah Shahihah no.1778 adapun Al Kabir (orang-orang besar atau tua) dalam pemahaman ulama salaf adalah orang yang memiliki kemampuan ilmu baik dari kalangan muda atau kalangan yang telah berumur. Seperti Ibn Abdil Barr di kitab Jami’nya (2/256) dan Al Munawi di kitab Faidul Khodiir (3/287).

[5] Wahai Abul Mundzir buku pembukuan masih ada tidakkah kamu bertanya, “Berapakah jumlah shodaqoh peserta daurohmu?” bahkan peserta tanda tangan memberikan shodaqoh terhadap masjid.

[6] Sejarah penyelisihan syar’i dan fatwa-fatwa ulama tentang yayasan seperti fatwa terakir Syaikh Muqbil Al Wadi’iy, Syaikh Robi’ Al Madkholi, Syaikh Yahya Al Hajuri, Syaikh Salim Al Hilaly, dan Syaikh Soleh bin Fauzan.

[7] Karena mereka bukan hanya sekedar berangan-angan dan bahkan ingin berusaha masjid beralih dibawah kekuasaan mereka.

[8] Di Syarh Masailul Jahiliyah hal 261

[9] Di Syarh Masailul Jahiliyah hal 70

[10] Di kitab Al Ilmu hal 72-74

Comments are closed.

Fatwa asy-Syaikh Rob

Fatwa: asy-Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi ~ YAYASAN, sunnah ...

Bukti-Bukti Penyelis

Download Bukti Kedustaan Dzul Akmal Dalam Daurohnya di Jambi Pada ...

Laa Tahzan - Jangan

Laa Tahzan ! ~ JANGAN BERSEDIH ~ JADIKAN PENDERITAAN SEBAGAI PEMBERSIH Ditulis oleh: Abu ...

Makar Dzul Akmal Dan

بسم الله الرحمن الرحيم   ----> Untuk download artikel + bukti scan ...

Seruan Jihad Melawan

Seruan Jihad Melawan Rafidhoh Oleh Syaikh Abu Abdirrahman Yahya Ibn ...

Switch to our mobile site